Kembalikan Danau Posoku..

Diposting oleh Forum Poso Bersatu

Danau Poso terletak di Tentena, Kabupaten Poso- Sulawesi Tengah (Sulteng), merupakan salah satu objek wisata andalan di Sulteng sebelum meletusnya konflik horizontal di Poso.

Saat bulan purnama, masyarakat dan pelancong yang berada di kawasan tersebut masih bisa mendengarkan nyanyian dero (tarian tradisional) dari sela-sela bukit di tepian Danau Poso. Semua itu, kini tinggal lolongan anjing saat malam tiba. Suasana gembira para turis yang menikmati keindahan Danau Poso, dalam kurun 6 tahun terakhir berganti menjadi mencekam.

Tidak hanya itu, gegap gempita berpadunya suara musik kakula (sejenis gamelan) dan tetabuhan gimba (sejenis gendang) saat dilangsungkannya Festival Danau Poso yang diikuti setiap kabupaten/kota sejak 1991-1996 kini juga tinggal kenangan.

Memang kurun waktu (1991-1996) tersebut merupakan masa kejayaan pariwisata di Kabupaten Poso dengan sumbangan 45% dari total penerimaan PAD Poso.

Karena itu, saat kerusuhan meletus harapanpun sirna menjadi puing-puing kerusuhan, hingga kini kondisi Danau Poso yang dulu setiap tahun menobatkan putri Danau Poso tak lagi ada, tinggal kenangan belaka, kondisi objek wisata Danau Poso juga kini nyaris porak-poranda karena tak terpelihara.

Rumah-rumah adat dari setiap Kabupaten di Sulteng yang dulunya dihiasi ornamen-ornamen etnis dari para kontingen, saat kerusuhan ikut berubah menjadi kumuh karena ditinggali para pengungsi.

Akibatnya, rumah adat tersebut rusak dan banyak yang rubuh tanpa perhatian pemerintah kabupaten. Para turis yang memasuki Danau Poso tidak lagi bisa menyaksikan orang-orang menari Dero yang berasal dari dusun-dusun di sekitarnya.

Kondisi ini semakin diperparah karena Danau Poso yang dulunya menjadi primadona dalam mendulang PAD, kini telah luput dari perhatian pemprov maupun pemkab, akibat kerusuhan yang masih menimbulkan traumatik mendalam di hati masyarakat Sulteng, khususnya masyarakat Poso.

Nyanyian tradisi Dero yang dulu membahana di tengah malam saat pertemuan budaya setiap saat bisa kita dengarkan, suara kerambangan dari pesta-pesta adat dan debur tambur menggema di antara terikan tokoh-tokoh adat yang memimpin ritual setiap bulan purnama kini tak lagi terdengar sama sekali.

Sepanjang 1996 hingga sekarang, Pemkab Poso tidak lagi mengagendakan festival budaya karena disibukkan menangani keamanan dan para pengungsi di wilayah ini, artinya sektor pariwisata Poso terpuruk derastis. Bahkan, hampir-hampir Propeda Kabupaten Poso tidak memasukkan lagi pariwisata di Danau Poso sebagai sektor rill yang mampu mendatangkan devisa yang tinggi.

Pemerintah juga semakin pesimistis mengembangkan Danau Poso sebagai tujuan wisata di Sulteng karena alasan stabilitas yang tidak terjamin.

Kini, kerusuhan Poso mulai pulih, tapi kondisi objek wisata Danau Poso masih tetap meradang, megap-megap, dan tidak disentuh pengelolaan profesional dari pemkab sehingga nyaris hilang dari peta pariwisata di Indonesia.

Infrastruktur rusak
Rumah-rumah adat yang berdiri unik tak jauh dari tepi Danau Poso sebagai replika keragaman suku, adat istiadat, dan budaya di Sulteng telah rusak dan terbengkalai dari perhatian pemda.

Walau ada satu dua turis yang tetap mendatangi tempat ini, namun mereka tidak menginap dipinggir danau karena cottage dan hotel sudah ditinggalkan para pengelola dan pemiliknya. Paling banter, hanya singgah sebentar lalu menuju kota atau melanjutkan perjalanan menuju teluk Tomori di Kabupaten Morowali.

Tidak hanya rumah adapt yang rusak, infrastruktur utama seperti jalan dan jembatan menuju Danau Poso juga mengalami rusak berat sehingga jarang kendaraan yang mau masuk dan melintas di atasnya.

Melihat kondisi Danau Poso yang sudah tidak indah seperti dulu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sulteng Liberty Pasaribu mengatakan pihaknya menyerahkan pengelolaan Danau Poso kepada pemkab sebagai konsekuensi otonomi daerah.

Lebih dari itu, Disbudpar Sulteng dalam setiap forum tetap mendorong Pemkab Poso untuk merehab kembali infrastruktur di Danau Poso dan menggelar kembali even budaya seperti Festival Danau Poso yang sudah terhenti sejak 1996.

Dukungan moril yang diberikan itu tidak dapat membantu Pemkab Poso berbuat banyak sebab untuk membangun kembali Poso butuh dana yang tidak sedikit, khususnya untuk agenda Festival Danau Poso (FDP) dulu merupakan agenda tahunan yang disusun Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng.

Malah, menurut Bupati Poso Muin Pusadan, untuk mengembalikan objek wisata Danau Poso seperti posisi semula merupakan pekerjaan yang tidak mudah jika masyarakat Poso tidak mau berdamai dan menyudahi konflik baik konflik frontal maupun perang dingin.

Memang, menurut dia, cukup memprihatinkan kawasan wisata Danau Poso yang dulunya menjadi primadona di antara objek-objek wisata di Sulawesi Tengah, sebab Danau Poso memiliki potensi alam dan infrastruktur yang memberi daya tarik wisatawan.

"Namun karena infrastruktur sudah tidak terpelihara, maka wisatawan lebih memilih objek-objek wisata yang lain bila mereka berkunjung ke Sulteng a.l. Kepulauan Togian, Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu, Teluk Tomori di Morowali, Pulau Pasoso, dan Tanjung Karang di Donggala," tandasnya.

Kendati demikian, untuk menepis keraguan berbagai pihak, Bupati Poso Muin Pusadan dengan getol mengumandangkan upaya pemulihan sektor wisata di wilayahnya yang berpenduduk 256.600 jiwa ini.

Indikasi positif saat ini terlihat dari antusias para pedagang yang kembali berjualan di pasar-pasar, toko-toko dan rumah makan mulai dibuka, sentra-sentra industri kerajinan mulai berproduksi, para turis sudah tampak lalu-lalang di jalan raya, begitupun hotel dan restoran mulai ramai pengunjung.

Di Kecamatan Poso Kota, beberapa warung kerajinan ebony dan rotan mulai dipadati turis, begitupun toko-toko campuran tetap dibuka hingga malam hari.

Untuk mengembalikan rasa aman bagi wisatawan di wilayah ini, Bupati Muin Pusadan mengungkapkan tahapan pemulihan keamanan dan ketertiban sudah mencapai 90% berkat bantuan keamanan dari TNI dan Polri.

Keamanan yang berangsur normal di wilayah ini dipengaruhi adanya ketangguhan masyarakat Poso dalam menghadapi konflik, sehingga pada suatu kesempatan, Kapolres Poso Abdi Dharma mengatakan pihaknya tidak menemui kendala signifikan dalam mengamankan Poso dan menangkap para perusuh sebab saat ini masyarakat Poso tidak mudah lagi terprovokasi.

Kini keamanan di Poso telah kondusif, dan wisatawan dapat mengunjungi Danau Poso, walaupun fasilitas wisata di kawasan itu cukup memprihatinkan.

Langkah selanjutnya, pemkab harus lebih sigap utnuk membenahi infrastruktur yang rusak a.l. pelabuhan laut dan udara, terminal, jalan, dan fasilitas objek-objek wisata terutama di Danau Poso, sehingga wisatawan tetap tertarik mengunjungi wilayah ini.

Untuk pemulihan itu, Pemkab Poso mengalokasikan DAU (dana alokasi umum) sebesar 30% dari total anggaran Rp200 miliar untuk membangun kembali pundi-pundi perekonomian dan kepariwisataan di bumi Sintuvu Maroso. (Agustan T. Syam ).

SUMBER: Suara Merdeka
Dikliping Oleh Divisi Humas Forum Poso Bersatu
Email: posobersatu@gmail.com
Blog, Video, Lagu, dan Foto: http://posobersatu.multiply.com

0 komentar: