Menata Hidup Usai Rusuh Poso

Diposting oleh Forum Poso Bersatu

Berbekal seng dan sedikit kayu bantuan pemerintah tahap I tahun 2002, keluarga Daimah Pamoso (62 tahun) membangun sendiri rumah di bekas fondasi rumah mereka yang terbakar habis pada kerusuhan Poso 2001. Karena kekurangan seng, bagian dapur hanya ditutupi atap dari daun kelapa. Rumah baru itu menutupi 3/4 lahan rumah lama. Ketika Republika menyambangi rumah papan yang baru saja selesai dibangun, ibu tua itu hendak menyiapkan pesta pernikahan Marfin, putri bungsunya.

Desa Matako, Tojo Barat, Kabupaten Tojo Una Una yang sebelum pemekaran menjadi bagian Kabupaten Poso, dihuni bersama warga Muslim dan Kristen. Namun, desa mereka dikelilingi beberapa desa Muslim seperti Toyado di sebelah barat dan Bombalo di timur. Mayoritas warga Tojo Una Una sendiri adalah Muslim.

Menurut Daimah, warga Desa Matako yang berbeda agama tak pernah menimbulkan apa-apa. Bahkan saat kerusuhan terjadi, antarwarga Matako tidak saling bakar dan saling bunuh. Mereka sama-sama mengungsi sebelum gerombolan pembakar yang entah dari mana itu menerjang kampung tepi pantai itu.

Warga Muslim Poso biasanya mengungsi ke Kota Poso yang dihuni mayoritas Muslim. Sementara warga Kristen banyak menuju Tentena, wilayah tepi Danau Poso yang dihuni mayoritas Kristen. Di tempat pengungsian itulah Marfin mendapatkan jodohnya. Lebih dari 100 rumah warga Matako rata dengan tanah, baik milik Muslim maupun Kristen.

Tahun 2002, warga mulai kembali. Namun, bantuan pemerintah berupa papan tripleks dan seng hanya cukup untuk membuat gubuk yang sering bocor bila hujan. Pekan lalu, Departemen Sosial dan TNI AD meresmikan bantuan 100 rumah tinggal sederhana. Daimah tidak kebagian. Dibandingkan rumah papan milik Daimah, rumah bantuan pemerintah itu memang lebih bagus. Walau luasnya hanya 6 x 6 meter persegi, dindingnya campuran batako dan papan. Tiap rumah juga diberi tambahan WC. ‘’Kitorang juga minta, mau bantuan. Tapi, katanya terlambat bilang,’’ kata Daimah.

Namun, yang jelas, Daimah dan sembilan putra-putri yang masih tinggal bersamanya tak lagi merasakan adanya ancaman kerusuhan. ‘’Di sini bagus tidak ada rasa apa-apa lagi dengan dorang. Warga Muslim dan Kristen damai, kerja sama, kitorang saling baku bantu,’’ tuturnya. Di pondok barunya, jemaat Gereja Efata itu memajang kalender bergambar Yesus.

Sementara tetangga sebelah Daimah memasang poster Usamah bin Ladin. Warga Desa Kapompa, Kecamatan Poso Kota, yang mayoritas beragama Kristen pun tak sungkan balik kampung lagi. Desa mereka juga diapit wilayah Muslim seperti Labuan dan Kalamalea. Namun, mereka belum sepenuhnya bisa kembali karena belum ada bangunan permanen. Sekitar 80 unit rumah, dua di antaranya milik keluarga Said Binangkara yang Muslim, terbakar habis ketika rusuh melanda di tahun 2001.

Baru Maret 2006 ini mereka mulai kembali membangun rumah sederhana yang lebih baik daripada gubuk tripleks bantuan pemerintah. Biasanya mereka menghabiskan waktu sepekan di desa untuk memelihara tanaman cokelat di kebun. Setelah bekal habis, mereka balik lagi ke tempat pengungsian, mayoritas ke Tentena dan Pampona. Begitu pula keluarga Said Binangkara yang pondoknya hanya 50 meter dari Gereja Protestan Kapompa, telah mulai merawat pohon kelapanya. Said masih bolak-balik ke Kalamalea untuk menjaga ibunya yang sakit.

Menurut Pamona, warga Desa Kapompa, hubungan dengan desa tetangga yang Muslim selama ini telah terjalin balik. Karena itu, mereka pun berani untuk kembali menata hidup di desa mereka. Apalagi Departemen Sosial dan TNI AD telah berjanji untuk membangun kembali rumah mereka yang telah rata tanah. ‘’Tidak ada reaksi apa-apa di sini,’’ kata Pamona ketika ditanya tentang peristiwa pembunuhan terhadap Pendeta Irianto Kongkoli di Palu beberapa waktu lalu.

Perasaan tenang juga tergambar pada Sampiyati, warga Desa Padalembara, Poso Pesisir. ‘’Saya percaya nggak akan ada penyerangan. (Rusuh itu karena) orang luar Poso saja yang masuk,’’ kata Sampiyati. Tak ada lagi cerita takut pergi ke kebun, walau tanaman kopi dan cokelat miliknya yang dibabati para perusuh kini tak bersisa. Berbagai insiden ledakan bom yang terjadi di Poso pun tak lagi menimbulkan keresahan.

Muslimah itu tinggal di desa yang dihuni warga Muslim Jawa dan Hindu Bali. Namun, wilayah Poso Pesisir dihuni mayoritas warga Kristen. Desa transmigran itu dikelilingi beberapa desa Kristen dan tak berdaya ketika konflik lokal mulai memercik pada 2001. Hanya warga Bali yang tak tersentuh konflik agama itu.

Sampiyati kini masih mengungsi di Kota Poso. Dengan bantuan tripleks dan seng dari pemerintah, dia dan suami sempat kembali ke desanya. Namun, kerusuhan besar tahun 2003 membuat gubuknya terbakar habis. Kini, calon penerima bantuan rumah tinggal sederhana dari pemerintah itu sudah tak sabar kembali ke desanya. Tokoh paling berpengaruh di komunitas Muslim Poso, Ustadz Adnan Arsal, mengungkapkan bahwa konflik bertahun-tahun di Poso telah membentuk watak menjadi keras dan saling curiga.

Dia mengungkapkan bahwa pesantrennya yang sebagian besar santrinya adalah anak yatim dan keluarga miskin termasuk menjadi korban kerusuhan Poso. Setelah pesantrennya dibakar, para santri pun menjadi telantar.

Ketika pemerintah memberi bantuan, yang dibangun adalah proyek mercusuar seperti masjid dan gereja, bukan pesantren yang sekaligus berfungsi sebagai panti asuhan. Padahal, selama ini ulama pemimpin pesantren selalu dimintai bantuan pemerintah meredakan ketegangan. Adnan menganggap pemerintah hanya memanfaatkan ulama sebagai pemadam kebakaran. Begitu tugas selesai, ulama dibiarkan menghadapi berbagai macam teror.

Karena itu, Adnan mengusulkan agar pemerintah juga membantu pesantren yang rusak. ‘’Berapa yatim Poso tak dipedulikan dan terpaksa tidur di luar? Pesantren perlu dibantu sehingga kekerasan di dalamnya bisa hilang,’’ ujarnya. Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah, berjanji akan memberi bantuan pada pesantren, termasuk membangun pesantren baru untuk Adnan. Namun, dia meminta supaya pesantren itu tidak dibangun di wilayah Tanah Runtuh. ‘’Kalau dipaksakan, berat bagi saya. Kalau ada yang lain dan lebih mudah, kenapa kita harus susah-susah,’’ kata Bachtiar yang tak mau menyebut alasan rinci mengapa Tanah Runtuh menjadi wilayah yang haram dibantu pemerintah.

Namun, Bachtiar yang menjanjikan bantuan tahap pertama senilai Rp 300 juta itu juga meminta janji umat Islam Poso. ‘’Jangan lagi ada bom ikan dan petasan (bom),’’ tutur dia. Rupanya, sekadar deklarasi perdamaian tak akan cukup menghentikan aksi saling bunuh. Kesejahteraan tetap menjadi jurus ampuh di tiap solusi konflik, termasuk di Aceh dan Papua.

Wakil Presiden telah menyediakan dana Rp 50 miliar untuk rehabilitasi Poso. Selain bantuan rumah berjumlah 1.009 unit senilai Rp 18 miliar, Departemen Sosial juga menjanjikan bantuan dana Rp 4 juta untuk korban kerusuhan (bencana sosial). Sementara, warga yang tak terkena kerusuhan mendapat dana bergilir Rp 5,6 juta untuk lima orang, sebagai penggerak kegiatan ekonomi. (rto)

SUMBER: Republika
Dikliping Oleh Divisi Humas Forum Poso Bersatu
Email: posobersatu@gmail.com
Blog, Video, Lagu, dan Foto: http://posobersatu.multiply.com

0 komentar: